TangerangHitz.com- Konser DAY6 yang digelar di Malaysia memicu perdebatan viral antara netizen Korea Selatan vs Asia Tenggara di media sosial. Perbedaan pandangan terkait antusiasme penonton, etika konser, hingga standar penyelenggaraan memicu adu komentar lintas negara dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform digital.
Perbedaan Antusiasme Penonton Picu Perdebatan
Polemik bermula dari beredarnya sejumlah potongan video konser memperlihatkan suasana penonton di area festival. Sebagian netizen Korea menilai atmosfer konser terlalu berisik dan kurang tertib, sementara banyak penggemar Asia Tenggara membela dengan menyebut ekspresi tersebut sebagai bentuk antusiasme dan dukungan kepada idola.
Baca Juga : Arctic Monkeys: Band Indie Rock Inggris yang Mendunia dan Terus Berevolusi
Sentimen Regional Meluas di Media Sosial
Perdebatan kemudian meluas menjadi sentimen regional. Sejumlah netizen Korea Selatan melontarkan komentar yang dinilai merendahkan penggemar Asia Tenggara sehingg warganet di kawasan tersebut memberikan respon balik. Tagar terkait konser dan perdebatan itu pun sempat trending.
Pengamat Soroti Pentingnya Literasi Digital
Eva Lailatu Syarifah, seorang K-popers, menilai konflik ini seharusnya tidak perlu terjadi. “Menurut saya, setiap negara punya cara berbeda dalam menikmati konser. Antusiasme penonton di Asia Tenggara itu memang terkenal ekspresif. Selama tidak melanggar aturan, kita harus menghargainya. Saya sangat menyayangkan jika sampai muncul stereotip yang merendahkan,” ujar eva.
Ia juga menambahkan bahwa fokus utama seharusnya tetap pada musik dan penampilan artis. “DAY6 selalu menunjukan cinta kepada penggemarnya tanpa membeda-bedakan. Jadi sedih kalau justru penggemarnya yang terpecah,” ucap Eva saat wawancara langsung pada Selasa (24/2).
Sementara itu, Rifqi Safwan Adiwidya seorang yang bukan penggemar K-pop melihat polemik ini dari sudut pandang berbeda. “Saya melihat media sosial memperbesar masalah ini. Mungkin awalnya orang hanya berbeda pendapat soal suasana konser, tetapi ketika mereka membawanya keranah nasionalisme, isu tersebut akhirnya menjadi sesitif,” ucap Safwan.
Baca Juga : Canon in D: Sejarah, Struktur, dan Pengaruhnya dalam Musik Modern
Menurutnya, konflik seperti ini bisa menjadi pelajaran penting tentang literasi digital dan pengendalian emosi di ruang publik. “Konser itu hiburan, jangan sampai perbedaan gaya menikmati musik malah merusak hubungan antarwarganet,” ujar Safwan saat wawancara langsung pada selasa (24/2).
Hingga kini, perdebatan di media sosial masih berlangsung meski mulai mereda, banyak penggemar di kedua sisi yang menyerukan perdamaian dan mengajak kembali fokus pada karya musik serta momen positif dari konser tersebut.





