Selat Hormuz Memanas: Mengapa Konflik Iran-AS Bisa Bikin Dompet Rakyat Indonesia “Jebol”?

Tangeranghitz, Tangerang – Ketegangan di Selat Hormuz antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya kini bukan sekadar isu politik luar negeri di layar televisi. Gejolak di jalur “urat nadi” minyak dunia tersebut mulai merambat masuk ke dapur dan dompet masyarakat Indonesia.

Hingga awal April 2026, harga minyak mentah dunia jenis Brent dan WTI dilaporkan melonjak drastis hingga menembus angka USD 110–116 per barel. Lonjakan ini merupakan imbas langsung dari sistem “buka-tutup” dan ancaman blokade di Selat Hormuz, jalur yang melayani 20% hingga 25% pasokan minyak global setiap harinya.

Indonesia, yang mengimpor sekitar 20% hingga 25% kebutuhan minyaknya dari kawasan Timur Tengah, berada dalam posisi rentan. Setiap gangguan di Selat Hormuz secara otomatis menekan biaya pengadaan BBM di dalam negeri.

Baca juga: Prabowo Ucapkan Selamat Paskah, Berharap Bawa Kedamaian Bagi Semua

“BBM adalah komponen utama biaya distribusi. Saat harga energi global naik, ongkos kirim barang dari gudang ke pasar akan ikut merangkak naik,” ungkap analisis ekonomi terkini. Hal ini memicu kenaikan harga sembako, pakaian, hingga barang ritel lainnya di pasar-pasar lokal.

Rupiah Tertekan, Daya Beli Melemah

Bukan hanya soal harga literan bensin, gejolak geopolitik ini juga memukul nilai tukar mata uang. Rupiah sempat melemah hingga menyentuh angka Rp17.000 per dolar AS. Pelemahan ini membuat biaya impor bahan baku industri dan barang elektronik menjadi jauh lebih mahal.

Baca juga: Gagal Beraksi, Curanmor Babak Belur Diamuk Massa di Depan Alfamart Flyover Cisauk

Data menunjukkan fenomena “kompresi pendapatan riil” mulai membayangi masyarakat. Meski gaji tetap, nilai uang tersebut menurun karena harga barang-barang kebutuhan pokok sudah naik lebih dulu. Riset mencatat bahwa setiap kenaikan 1% harga BBM dapat menyumbang tambahan inflasi sekitar 0,085%.

Upaya Pemerintah Menahan Gejolak

Meskipun tekanan global sangat kuat, pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Pertamina saat ini masih berupaya menjaga stabilitas harga BBM subsidi. Langkah ini diambil guna menjaga daya beli masyarakat agar tidak jatuh lebih dalam dan menekan risiko inflasi yang tinggi.

Namun, keberhasilan upaya ini sangat bergantung pada seberapa lama konflik di Timur Tengah berlangsung. Jika blokade Selat Hormuz terus berlanjut, kebijakan fiskal Indonesia akan menghadapi ujian berat dalam menambal beban subsidi energi yang kian membengkak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *