TangerangHitz, Jakarta – Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini berdampak pada lalu lintas perdagangan minyak global. PT Pertamina (Persero) membenarkan bahwa ada 2 kapal Pertamina terjebak di Selat Hormuz menyusul penutupan jalur tersebut oleh otoritas Iran.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa sejatinya ada empat kapal milik anak usaha mereka, Pertamina International Shipping (PIS), di perairan Timur Tengah.
“Memang benar ada dua kapal Pertamina yang masih berada di sana (Selat Hormuz). Mungkin ada empat, tapi yang dua berada di luar Selat Hormuz,” terang Baron di Grha Pertamina, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
BACA JUGA: Warga China Tewas dalam Serangan AS-Israel, 3.000 Orang Mengungsi dari Iran
Keselamatan Kru Jadi Prioritas saat 2 Kapal Pertamina Terjebak
Baron menegaskan, prioritas utama Pertamina saat ini adalah memantau keselamatan para awak, sekaligus memastikan keamanan kondisi kapal beserta aset perusahaan. Pertamina juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI untuk mengamankan aset tersebut.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan hal senada. Ia menyatakan pemerintah sedang mengupayakan langkah diplomasi agar kapal yang mengangkut minyak mentah itu bisa segera keluar dari wilayah konflik.
“Kami lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).
BACA JUGA: Memperingatu HUT BSI Ke-38; UBSI Kampus BSD Mengadakan Kajian Bersama Ust. Maulana
Skenario Terburuk: RI Siap Alihkan Impor ke AS
Tertutupnya Selat Hormuz tentu berdampak pada pasokan energi. Menteri Bahlil merinci, dari total impor minyak mentah RI, sekitar 20-25% berasal dari kawasan Timur Tengah yang distribusinya melewati selat tersebut. Sementara dari catatan Pertamina, kebutuhan impor nasional yang khusus melewati lalu lintas Selat Hormuz mencapai 19%.
Mengingat tidak ada pihak yang bisa memprediksi kapan konflik ini selesai, pemerintah menyiapkan skenario terburuk untuk mencegah kekurangan pasokan.
“Kami ambil alternatif terjelek skenarionya sekarang ini, crude (minyak mentah) dari Timur Tengah sebagian dialihkan ambil dari Amerika supaya ada kepastian ketersediaan,” tegas Bahlil.
BACA JUGA: Jam Operasional Lapangan Padel Dibatasi Pramono, Imbas Berisik Sampai Malam
Meski demikian, masyarakat tidak perlu khawatir terkait ketersediaan BBM di dalam negeri. Baron memastikan bahwa Pertamina telah menjalankan proses distribusi melalui sistem reguler, alternatif, maupun emergency untuk menjaga ketahanan energi nasional.




