TangerangHitz – Suasana duka menyelimuti warga Indonesia pada pagi hari ini. Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6 sekaligus mantan Panglima ABRI, Try Sutrisno, meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, pada Senin (2/3). Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, langsung membenarkan kabar duka tersebut dan menyampaikan rasa belasungkawa mendalam.
“Benar, kita berduka cita sangat mendalam,” kata Prasetyo Hadi, Senin (2/3).
Petugas rumah duka RSPAD akan memandikan jenazah Wakil Presiden ke-6 RI. Setelah itu, keluarga akan membawa jenazah ke rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat, untuk disemayamkan. Pada pukul 12:50 WIB, jamaah akan menyalatkan jenazah di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Selanjutnya, keluarga bersama aparat akan segera memakamkan jenazah di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Baca Juga :
AS–Israel Kembali Serang Iran, 148 Tewas di Sekolah Dasar Minab; Ayatollah Khamenei Dilaporkan Gugur
Mengenal Try Sutrisno
Try Sutrisno lahir di Surabaya pada tahun 1935 dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Sejak muda ia sudah menunjukkan semangat juang, bahkan sempat membantu keluarga dengan berjualan koran dan rokok. Setelah dewasa, ia memilih jalur militer dengan bergabung ke Angkatan Darat. Disiplin dan dedikasi membuat karier militernya berkembang pesat. Ia menempati berbagai posisi penting berkat kepercayaan yang diberikan pimpinan TNI.. Salah satu titik krusial dalam perjalanan kariernya adalah ketika ia menjadi ajudan Presiden Soeharto, yang memperkuat kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan Orde Baru,Ia berasal dari kalangan militer pada 1956, Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) menerima Try Sutrisno sebagai taruna. Karier militernya terus berkembang, termasuk keterlibatannya dalam Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962, yang menjadi awal perkenalannya dengan Soeharto.
Baca Juga :
Kematian Ayatollah Ali Khamenei: Eskalasi Konflik dan Suksesi Kepemimpinan
Pada 1974, Presiden Soeharto menunjuk Try Sutrisno sebagai ajudannya. Kariernya terus menanjak hingga Agustus 1985, ketika ia meraih pangkat Letnan Jenderal TNI. Pada saat itu, pimpinan Angkatan Darat menunjuk Try Sutrisno sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat untuk mendampingi Jenderal TNI Rhudini. Seiring waktu, ia memegang jabatan strategis, termasuk Panglima ABRI, yang menempatkannya di pusat keputusan politik dan keamanan negara. Pada 1993, MPR memilihnya sebagai Wakil Presiden RI ke-6 mendampingi Soeharto. Ia menjabat hingga 1998, masa penuh gejolak menjelang runtuhnya Orde Baru.




