Warga China Tewas dalam Serangan AS-Israel, 3.000 Orang Mengungsi dari Iran

Ilustrasi ribuan warga antre evakuasi di bandara Teheran menyusul insiden warga China tewas akibat serangan AS-Israel di Iran
Suasana evakuasi ribuan warga China di Bandara Internasional Teheran, Iran, menyusul eskalasi konflik mematikan akibat serangan udara AS-Israel. (Gambar: AI)

TangerangHitz, Beijing – Konflik bersenjata di Timur Tengah kembali memakan korban jiwa dari pihak asing. Kementerian Luar Negeri China mengonfirmasi satu warga China tewas akibat serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyasar wilayah Teheran, Iran.

Sebelumnya, pasukan gabungan AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke ibu kota Iran tersebut pada Sabtu (28/2/2026). Operasi militer ini turut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.

BACA JUGA: AS–Israel Kembali Serang Iran, 148 Tewas di Sekolah Dasar Minab; Ayatollah Khamenei Dilaporkan Gugur

Ribuan Warga China Tinggalkan Iran

Seiring memburuknya situasi keamanan, pemerintah China sebenarnya telah memperingatkan warganya sejak pekan lalu agar menunda perjalanan ke Iran. Hingga Senin (2/3/2026), laporan resmi mencatat lebih dari 3.000 warga negara China telah meninggalkan Iran demi keselamatan mereka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menginstruksikan Kedutaan Besar China di Iran untuk segera memberi bantuan kepada korban dan keluarganya. Meskipun begitu, Beijing belum merilis detail identitas korban tewas tersebut.

Terkait gempuran tersebut, Mao juga menegaskan bahwa Beijing sama sekali tidak menerima pemberitahuan apa pun sebelumnya dari pihak AS.

BACA JUGA: Kematian Ayatollah Ali Khamenei: Eskalasi Konflik dan Suksesi Kepemimpinan

Seruan Gencatan Senjata Usai Warga China Tewas

Merespons ketegangan ini, China menyerukan semua pihak untuk segera melakukan gencatan senjata dan membuka jalur diplomasi. “Tugas yang paling mendesak adalah segera menghentikan operasi militer dan mencegah meluas serta menyebarnya konflik,” ujar Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran (IRGC) bersumpah akan melancarkan operasi balasan paling ganas dalam sejarah untuk menyerang Israel dan pangkalan AS di negara-negara Teluk. Rentetan ledakan bahkan sudah terdengar di Doha, Dubai, dan Manama selama akhir pekan lalu.

Di tengah situasi yang makin memanas pasca insiden warga China tewas ini, Presiden AS Donald Trump justru merencanakan kunjungan ke China pada 31 Maret hingga 2 April 2026. Kunjungan ini merupakan perjalanan pertamanya ke Beijing pada masa jabatan keduanya. Mao mengonfirmasi bahwa Washington dan Beijing masih terus menjaga komunikasi terkait rencana pertemuan tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *