Serangan ini terjadi hanya beberapa bulan setelah konflik besar antara Iran dan Israel yang dikenal sebagai Perang 12 Hari, yang berlangsung pada 13 Juni hingga 24 Juni 2025 dan berakhir melalui gencatan senjata yang dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump.
Baca juga:
Kematian Ayatollah Ali Khamenei: Eskalasi Konflik dan Suksesi Kepemimpinan
Sekolah Dasar di Minab Jadi Sasaran
Salah satu serangan terbaru menghantam sebuah sekolah dasar putri di Minab, kota di Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Sedikitnya 148 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.
Pemerintah Iran mengecam keras serangan itu. Dilansir kantor berita resmi Islamic Republic News Agency (IRNA), Minggu (1/3), pejabat tinggi Iran Aref menyebut serangan tersebut sebagai “contoh nyata kejahatan perang dan pelanggaran terang-terangan terhadap peraturan internasional.”
Aref menegaskan bahwa serangan tersebut tidak akan dibiarkan tanpa hukuman.
“Keamanan dan martabat bangsa Iran adalah garis merah kami dan tidak ada agresi yang akan dibiarkan tanpa konsekuensi,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang dimuat IRNA.
Ia juga berjanji akan memberikan tanggapan yang kuat dan proporsional terhadap AS dan Israel.
Ayatollah Ali Khamenei Dilaporkan Tewas
Stasiun televisi nasional Iran mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa putri Khamenei, menantunya, serta seorang cucunya turut menjadi korban.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak AS maupun Israel terkait laporan kematian tersebut.
Baca juga:
Seorang Siswa MTs Berusia 14 Tahun di kota Tual Tewas Mengenaskan Usai di Aniaya Oleh Oknum Anggota Brimob Polda Maluku.
Konflik terbaru ini kembali membangkitkan memori Perang 12 Hari pada Juni 2025. Konflik tersebut bermula ketika Israel melancarkan serangan udara dan operasi intelijen berskala luas dengan sandi Operasi Rising Lion. Serangan itu menargetkan puluhan lokasi strategis di Iran, termasuk fasilitas nuklir di Natanz, Isfahan, dan Fordow, serta kompleks rudal dan markas militer bawah tanah.
Iran kemudian membalas melalui Operasi True Promise III, sebagai respons atas tewasnya komandan senior IRGC, ilmuwan nuklir, dan warga sipil, termasuk anak-anak, dalam serangan Israel.
Pertempuran intens selama hampir dua pekan akhirnya dihentikan melalui gencatan senjata yang dimediasi oleh Presiden AS saat itu, Donald Trump.
Serangan 28 Februari 2026 ini menandai babak baru ketegangan antara Iran dan blok AS–Israel. Analis memperingatkan bahwa eskalasi lanjutan berpotensi memperluas konflik ke kawasan Teluk dan menyeret lebih banyak negara ke dalam konfrontasi terbuka.
Dengan ancaman balasan dari Teheran yang disebut akan “kuat dan proporsional,” komunitas internasional kini mendesak de-eskalasi segera guna mencegah perang regional berskala lebih luas.