Krisis Air Bersih Landa 106 Desa di Kabupaten Tangerang

air bersih

TangerangHitz-Tangerang ,Sebanyak 106 desa yang tersebar di 26 kecamatan di Kabupaten Tangerang mengalami krisis air bersih selama periode Juli hingga Oktober 2026. Kondisi tersebut terjadi akibat sumur-sumur warga yang surut hingga mengering akibat musim kemarau berkepanjangan.

BPBD Menjelaskan bahwa kejadian ini tidak terjadi secara merata

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, krisis air bersih tersebut berdampak pada 34.637 kepala keluarga yang kini bergantung pada pasokan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, menjelaskan bahwa dampak kekeringan tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah, meski tercatat melanda 26 kecamatan. Wilayah yang disebut paling terdampak adalah Kecamatan Panongan, disusul sejumlah kecamatan lain seperti Curug, Legok, Tigaraksa, Rajeg, Balaraja, Kronjo, Pagedangan, Solear, dan Jambe.

Baca Juga:Persiapan Liga 4 Banten, Salfas SC Tampung Ratusan Bibit Muda Sepak Bola Tangerang

Di sejumlah wilayah terdampak, warga harus mengantre hingga malam hari untuk memperoleh pasokan air dari mobil tangki BPBD. Dokumentasi yang beredar di media sosial menunjukkan warga membawa galon dan berbagai wadah penampung air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga di tengah keterbatasan sumber air bersih.

Kondisi tersebut memaksa sebagian warga mengantre hingga malam hari saat mobil tangki BPBD datang mendistribusikan air bersih. Sejumlah dokumentasi yang beredar di media sosial memperlihatkan warga membawa galon, ember, dan berbagai wadah penampung air untuk memperoleh bantuan. Situasi itu menggambarkan betapa pentingnya pasokan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.

Baca Juga:Tegaskan Kedaulatan Energi Nasional, Pemerintah Ancam Evaluasi dan Hentikan Ekspor Gas ke Negara Non-Kooperatif

Krisis air bersih yang terjadi tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat. Keterbatasan akses air bersih dapat meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan kebersihan lingkungan. Oleh karena itu, distribusi bantuan air menjadi langkah penting untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama masa kekeringan berlangsung.

Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama BPBD terus melakukan pendataan wilayah terdampak serta menyalurkan bantuan air bersih ke daerah-daerah yang membutuhkan. Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi beban masyarakat sembari menunggu kondisi cuaca kembali normal dan ketersediaan sumber air tanah membaik.

Fenomena kekeringan yang terjadi tahun ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan air bersih di wilayah Tangerang menuntut adanya langkah antisipasi yang lebih komprehensif, mulai dari konservasi air tanah hingga penguatan infrastruktur penyediaan air bersih bagi masyarakat.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *