TangerangHitz-JAKARTA,Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax di wilayah DKI Jakarta dan Banten masih berada di angka Rp15.950 per liter. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat harus menyesuaikan pola pengeluaran, terutama bagi mereka yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk bekerja dan beraktivitas setiap hari.
Kenaikan Harga BBM Menjadi Perhatian
Kenaikan dan penyesuaian harga BBM nonsubsidi masih menjadi perhatian masyarakat karena berdampak langsung terhadap biaya transportasi sehari-hari. Berdasarkan informasi harga BBM Pertamina yang berlaku di wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, Pertamax dipasarkan dengan harga Rp15.950 per liter, sementara Pertalite berada di angka Rp10.000 per liter.
Baca Juga:Lalin di Jalan Cinere Raya Depok Sempat Macet Imbas Perbaikan Jalan
Pihak Pertamina Masih Terus Melakukan Pertimbagan
Harga tersebut merupakan bagian dari kebijakan penyesuaian BBM nonsubsidi yang mengikuti berbagai faktor, termasuk kondisi pasar energi dan pertimbangan ekonomi masyarakat. PT Pertamina Patra Niaga juga menyatakan bahwa harga BBM nonsubsidi masih dipertahankan pada periode yang sama dengan mempertimbangkan sejumlah faktor dan kondisi masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah warga mengaku mulai melakukan penyesuaian dalam penggunaan kendaraan guna menekan pengeluaran. Salah satunya adalah Ridwan (34), seorang karyawan swasta di Tangerang yang setiap hari menggunakan sepeda motor untuk bekerja.
Baca Juga:Sachrudin-Maryono Gaungkan PHBS Jadi Gaya Hidup
Menurutnya, harga Pertamax yang mendekati Rp16 ribu per liter cukup memengaruhi anggaran bulanannya.
“Kalau dibilang terasa, pasti terasa. Dulu isi bensin mungkin masih bisa disisihkan tanpa terlalu dipikirkan, sekarang saya harus menghitung lagi pengeluaran transportasi setiap minggu. Apalagi kebutuhan lain seperti makan, listrik, dan biaya rumah tangga juga ikut naik,” ujarnya saat diwawancarai.
Ridwan mengatakan dirinya kini lebih berhati-hati dalam menggunakan kendaraan. Ia berusaha menggabungkan beberapa keperluan dalam satu perjalanan agar tidak terlalu sering mengisi bahan bakar.
“Sekarang saya lebih mengatur rute perjalanan. Kalau ada urusan di beberapa tempat yang berdekatan, saya selesaikan sekaligus. Tujuannya supaya lebih hemat bensin,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku tetap menggunakan Pertamax karena menyesuaikan rekomendasi kendaraan yang digunakannya. Namun ia memahami jika sebagian masyarakat memilih beralih ke BBM dengan harga yang lebih terjangkau demi menghemat pengeluaran.
“Saya masih pakai Pertamax karena mempertimbangkan kondisi mesin kendaraan. Tapi saya juga paham kalau banyak orang yang akhirnya memilih opsi yang lebih murah karena kondisi ekonomi sekarang memang cukup berat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ridwan menilai dampak kenaikan atau tingginya harga BBM tidak hanya dirasakan saat mengisi bahan bakar. Menurutnya, efek berantai sering kali muncul pada berbagai kebutuhan lain.
“Biasanya yang paling terasa itu harga kebutuhan sehari-hari. Ongkos kirim, biaya transportasi, sampai harga beberapa bahan pokok bisa ikut naik. Jadi dampaknya bukan cuma saat beli bensin saja,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat menjaga stabilitas harga energi agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Baca Juga:32 Perusahaan Biang Kerok Karhutla Dibekukan
“Masyarakat tentu berharap harga BBM bisa lebih stabil. Kalau memang ada penyesuaian, setidaknya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat. Karena yang paling merasakan dampaknya biasanya warga berpenghasilan menengah ke bawah,” tuturnya.
Pengamat ekonomi sebelumnya juga kerap menilai bahwa perubahan harga BBM memiliki pengaruh terhadap biaya distribusi barang dan jasa. Karena itu, stabilitas harga energi dinilai penting untuk menjaga tingkat inflasi dan daya beli masyarakat.
Dengan kondisi harga Pertamax yang masih berada di angka Rp15.950 per liter, masyarakat di berbagai daerah kini dituntut lebih cermat dalam mengatur pengeluaran, sementara pemerintah dan penyedia energi diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan kemampuan ekonomi masyarakat.


