Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono, membenarkan kondisi tersebut. “Berdasarkan data kerusakan tanaman padi akibat kekeringan MT 2026 dari POPT Provinsi Banten, luasan areal pertanian terdampak di Kabupaten Tangerang seluas 125,75 hektare. Data tersebut per 27 Agustus 2026,” ujarnya pada Rabu, 2 September.
Menurut Ujang, varietas padi yang terdampak antara lain Inpari dan Ciherang, yang banyak dibudidayakan petani setempat. Ia menambahkan bahwa luasan sawah terdampak masih berpotensi bertambah, sehingga pemerintah daerah bersama pihak terkait terus melakukan inventarisasi dan pendataan lapangan. “Jika melihat perkembangan prakiraan cuaca dari BMKG, kami masih terus melakukan inventarisasi dan pendataan terkait jumlah areal lahan sawah yang terdampak,” katanya.
Baca Juga:Pemkab Tangerang Buka 1.100 Kuota Beasiswa bagi Mahasiswa Tidak Mampu
Menghadapi ancaman kekeringan, Pemkab Tangerang menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga produksi pertanian. Pemerintah daerah berkolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Pertanian dalam penyediaan program serta infrastruktur pengairan. Beberapa program yang disiapkan meliputi IRPOM, IRPIP, JIAT, serta PM-AAS. Selain itu, benih pengganti juga akan diberikan kepada petani yang mengalami puso. “Program itu untuk membantu petani untuk mempercepat pemulihan lahan pertanian yang mengalami gagal panen,” jelas Ujang.
Tiga Kecamatan Mengalami Kekeringan Berat
Sebelumnya, ratusan hektare lahan pertanian di tiga kecamatan di Kabupaten Tangerang mengalami kekeringan berat. Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Kronjo, Mekar Baru, dan Gunung Kaler. Kondisi tersebut memicu gagal panen atau puso pada Musim Tanam II (MT 2).
Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kronjo, Fakhruddin, mengonfirmasi situasi tersebut. Menurutnya, mayoritas petani memang tengah memasuki masa panen, namun penurunan debit air di hulu sungai berdampak signifikan terhadap lahan pertanian. Ia menambahkan bahwa pengeringan sumber air utama juga memengaruhi tanaman yang masih berada dalam fase vegetatif.
Baca Juga:Bos Kasino Batam Terancam Jeratan Pasal Berlapis
Dengan demikian, ancaman kekeringan tidak hanya berdampak pada hasil panen yang sudah siap dipetik, tetapi juga berpotensi mengganggu keberlangsungan tanaman padi yang baru tumbuh. Fakhruddin menekankan perlunya langkah cepat dari pemerintah daerah untuk memastikan pasokan air tetap terjaga agar kerugian petani tidak semakin meluas.