Belum reda duka dari timur Indonesia, Kalimantan kini menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas. Ribuan titik api terdeteksi di Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan. Asap pekat menyelimuti kota-kota besar, menurunkan kualitas udara hingga kategori “sangat tidak sehat.” Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, dengan ribuan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dilaporkan di Palangka Raya dan sekitarnya. “Setiap hari kami menerima ratusan pasien dengan keluhan sesak napas. Situasi ini sangat mengkhawatirkan,” kata dr. Yuliana, Kepala Dinas Kesehatan Palangka Raya.
Baca Juga:BMKG Akhiri Peringatan Tsunami Usai Gempa M 7,7 Guncang NTT
Selain mengganggu aktivitas warga, kabut asap juga memengaruhi transportasi. Sejumlah penerbangan di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, terganggu akibat jarak pandang yang terbatas. Bahkan, asap lintas batas mencapai Sarawak, Malaysia, memaksa ratusan sekolah ditutup. Pemerintah Indonesia telah mengerahkan lebih dari 12 ribu personel gabungan, helikopter water bombing, serta operasi modifikasi cuaca untuk memadamkan api. “Kami berupaya maksimal dengan segala sumber daya yang ada. Namun, faktor cuaca kering dan angin kencang membuat pemadaman tidak mudah,” jelas Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar.
Indonesia Kurang Sigap dalam menghadapi Bencana
Kedua bencana ini menyoroti rapuhnya kesiapsiagaan lingkungan dan kebencanaan di Indonesia. Gempa di NTT menunjukkan kerentanan wilayah terhadap aktivitas tektonik, sementara karhutla di Kalimantan memperlihatkan lemahnya tata kelola lingkungan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menegaskan bahwa sebagian besar titik api berada di konsesi perkebunan dan tambang. “Karhutla bukan sekadar fenomena alam, tetapi akibat dari praktik industri yang abai terhadap lingkungan,” tegas Direktur Eksekutif WALHI, Zenzi Suhadi.
Baca Juga:Update Gempa NTT: Pemda Catat 5 Orang Meninggal Dunia
Para ahli menekankan perlunya reformasi kebijakan lingkungan dan peningkatan kesiapsiagaan bencana. Tanpa langkah serius, Indonesia akan terus menghadapi siklus duka yang berulang setiap tahun. Dua bencana besar yang terjadi hampir bersamaan ini menjadi peringatan keras bahwa mitigasi dan tata kelola lingkungan harus menjadi prioritas nasional.