Krisis Korban Jiwa, Badai Orang Hilang, dan Tragedi Internasional di Bawah Reruntuhan

TangerangHitz, Venezuela – Skala hilangnya nyawa akibat gempa kembar ini menempatkannya sebagai salah satu bencana alam paling mematikan di kawasan Amerika Selatan. Data resmi dari Kementerian Kesehatan Venezuela mengonfirmasi bahwa korban meninggal dunia telah mencapai sedikitnya 2.295 jiwa, dengan korban luka-luka yang terdata di berbagai fasilitas medis melampaui 11.267 orang. Namun, angka tersebut diyakini masih jauh di bawah realitas lapangan akibat terhambatnya proses pendataan di wilayah-wilayah terisolasi.

Selain korban jiwa dan luka, Venezuela kini dihadapkan pada krisis kemanusiaan luar biasa berupa puluhan ribu orang yang dinyatakan hilang. Sistem pelacakan sipil mandiri mencatat sebanyak 43.251 orang belum ditemukan, sementara Koordinator Bantuan Darurat PBB memperkirakan jumlah orang hilang dapat melampaui 50.000 jiwa. Sebagian besar dari mereka diduga kuat masih terperangkap di bawah berton-ton reruntuhan beton bangunan yang belum sempat dievakuasi.

Baca juga: Tingkat Kerusakan Infrastruktur Fisik dan Lumpuhnya Transportasi Pesisir

Bencana ini juga memicu krisis internasional karena banyaknya warga negara asing yang menjadi korban di tengah runtuhnya berbagai fasilitas umum dan akomodasi wisata.

Pemerintah Portugal mengonfirmasi bahwa 68 warganya tewas dan 74 lainnya hilang.

Tak hanya Portugal Spanyol juga melaporkan 19 warganya meninggal dunia dan 131 warga dinyatakan hilang.

Dan korban jiwa asing lainnya mencakup 24 warga negara Kolombia, 16 keturunan Italia-Venezuela, 8 warga negara Tiongkok, serta beberapa warga dari Brasil, Kuba, Chili, Argentina, Uruguay, dan Republik Dominika.

Salah satu tragedi paling pilu yang menarik perhatian internasional terjadi di sebuah hotel penampungan imigran di La Guaira. Lebih dari 100 warga negara Venezuela yang baru saja dideportasi dari Amerika Serikat menggunakan penerbangan khusus dilaporkan hilang tanpa jejak setelah hotel tempat mereka dikarantina runtuh sepenuhnya akibat gempa. Proses evakuasi para korban terhambat oleh minimnya peralatan berat di lokasi bencana, memaksa warga setempat dan kerabat korban menggali puing-puing bangunan menggunakan alat seadanya atau bahkan dengan tangan kosong demi menemukan orang-orang yang mereka cintai.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *